Pak, Aku Sungguh Minta Maaf

“Pak NG lagi?! Akh sialnya aku.. Kenapa orang-orang bisa begitu ganas sih kalo soal FRS dan memilih dosen favorit?”, ucapku saat mengetahui bahwa kuota dosen-dosen favorit sudah penuh, pada FRS lalu. Benar, aku terlempar ke dosen yang sangat aku hindari sejak awal. Kenyang sudah, aku mengampu 1 mata kuliah dengannya pada semester lalu. Bagiku, cara beliau mengajar memang sangat jauh dari yang aku harapkan. Ah, sebal.
Pada pertemuan pertama, aku pun tidak berharap banyak. Doaku cuma satu, semoga aku bisa cepat-cepat menyudahi perkuliahan ini.
Hal ini terus berlanjut hingga pada suatu hari aku sangat kebingungan dengan tugas yang diberikan. Aku langsung menghubungi sang asisten, Kak PY. Dibalasinya satu-per-satu pertanyaanku hingga akhirnya Kak PY balik bertanya.
“Bagaimana pendapatmu soal Pak NG? Kamu memahami perkuliahan dengan baikkah?”
Ku tumpahkan saja seluruh uneg-unegku padanya. Tepat setelahnya, Kak PY langsung merespon dengan memberikan sebuah pandangan baru bagiku. Aku bungkam, benar-benar terdiam mendengarkan.
Kak PY memberitahuku bahwa Pak NG adalah dosen yang sangat peduli dengan mahasiswanya. Tepat setelah kelas berakhir, Pak NG selalu bertanya padanya, “Bagaimana tadi anak-anak? Paham tidak?” aku langsung tersentak mengetahui fakta tersebut. Semua yang beliau lakukan adalah suatu kesengajaan. Tidak memberi judul di setiap pembahasan materi, memberikan soal yang rumit, itu semua bukan tanpa alasan. Pak NG berlaku demikian karena sedang menanamkan pola pikir pada mahasiswanya, sekaligus menuntut mahasiswanya untuk belajar mandiri secara implisit. Aku langsung teringat, semua itu benar. Aku jadi lebih suka membaca buku mata kuliahnya, lebih sering mencari referensi dimanapun dan lebih menghabiskan waktu untuk belajar sendiri, ketimbang mata kuliah lain. Bodohnya aku yang selama ini selalu berpikir sempit. Aku terdiam merenung sejenak dan berterima kasih pada Kak PY atas mindset baru itu, terlepas dari statusnya sebagai asisten Pak NG. Aku menyesalinya betul, rasanya bersalah, ingin minta maaf. Maafkan aku, Pak.
Oh diriku, berjanjilah untuk berhenti membanding-bandingkan dosen lagi. Semua dosen sudah sangat bekerja keras dengan caranya masing-masing. Berhentilah bersikap reaktif. Hal itu hanya akan menyusahkan dirimu sendiri. Perkuliahan tetap harus kamu jalani dan sikapmu yang reaktif malah akan memperburuk keadaanmu. Cobalah bersikap dewasa. Sikapi segala hal dengan baik, pikirlah dengan kepala dingin dan lihatlah dari sudut pandang lain, kamu pasti akan menemukan kebaikan di baliknya. Ingat baik-baik bahwa kamulah si beruntung itu, yang berhasil menyandang status sebagai mahasiswa, sedangkan yang lain tidak. Ubah pola pikirmu, mari bersikap proaktif!

Ditulis oleh : Yuni Prastika
Halo. Aku Yuni Prastika, mahasiswa semi-ambis dari Fisika 2016. Selain kuliah, aku juga ikut berkegiatan di Unit Bola Voli dan Korps Sukarela PMI ITB. Hobiku jalan-jalan, berekreasi wisata alam dan shopping, hehe. Mottoku, mengalah bukan berarti kalah. Yap, aku juga tipikal orang yang suka damai, hidup tanpa tekanan. Namun setelah sekian lama, aku mulai menyadari satu hal. Zona nyaman memang aman dan menenangkan. Namun perlu juga diketahui, tidak ada orang yang akan tumbuh di zona ini. Oleh karena itulah hingga kini, aku terus mencoba keluar dari zona nyaman dan menggali potensi diriku ke berbagai kegiatan positif sambil mengisi sela-sela kuliah seperti berolahraga, mengikuti seminar, kepanitiaan terbuka, dan lain sebagainya.

Berita Terkait